lovingshopz png-02
- Kenapa Kita Suka Beli Buku Catatan Tapi Jarang Mengisinya -
Home  »  Behavior   »   Kenapa Kita Suka Beli Buku Catatan Tapi Jarang Mengisinya

Entah kenapa, setiap kali lihat buku catatan dengan desain lucu atau sampul yang estetik, rasanya sulit menahan diri. “Nanti pasti kepakai,” begitu alasan klasiknya. Tapi kenyataannya, beberapa bulan kemudian, buku itu masih rapi, bersih, dan belum tersentuh sama sekali. Ada sesuatu yang memuaskan dari membeli buku catatan baru. Dari tekstur kertasnya, aroma lembutnya, sampai sensasi membuka halaman pertama yang masih kosong — semuanya terasa seperti awal yang baru. Kita membayangkan akan menulis ide-ide hebat, resolusi hidup, atau mungkin sekadar catatan harian.

Tapi sering kali, ekspektasi itu malah bikin kita berhenti sebelum mulai. Mungkin kita takut halaman pertama terlihat “nggak sempurna”. Atau khawatir tulisan kita nggak sebagus yang dibayangkan. Akhirnya, buku itu disimpan dulu, menunggu momen yang lebih tepat — momen yang entah kapan datangnya.

Padahal, justru di situlah keindahannya. Buku catatan bukan dibuat untuk jadi sempurna, tapi untuk diisi dengan goresan-goresan hidup kita: ide yang muncul di tengah malam, daftar belanja yang ditulis terburu-buru, bahkan coretan kecil tanpa makna. Semua itu bagian dari cerita. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menunggu momen ideal.

Ambil salah satu buku catatan yang masih tersimpan rapi, dan tulis apa pun di sana — kalimat acak, doodle kecil, atau bahkan hal yang ingin kamu lupakan. Karena buku catatan yang terbaik bukan yang paling indah sampulnya, tapi yang penuh dengan kehidupan di dalamnya.